Selamat Datang!

Terima kasih atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan komentar, OK!

Tab

Sabtu, 09 April 2011

Pertumbuhan dan Perkembangan


A.    Definisi
1.      Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah Perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi jasmaniah / fisik dan menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru dari organisme/ individu.
Pertumbuhan ( Growth ) adalah berkaitan dangan masalah perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat ( gram, pound ) ukuran panjang ( cm, inchi ), umur tulang dan keseimbangan metabolik ( retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
Contoh : Bertambah tinggi, bertambah berat badan dan tumbuhnya kelenjar-kelenjar sex.

2.      Perkembangan
Perkembangan ( Development ) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan menyangkut adaanya proses difrensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk perkemabngan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.
Perkembangan disini di artikan sebagai perubahan yang dialami oleh individu atau oganisme menuju tingkat kedewasaannya (matury) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis.
Pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu, walaupun demikian seorang anak dalam banyak hal tergantung kepada orang dewasa misalnya mengenai makanan, perawatan, bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit dsb. Oleh karena itu semua orang yang mendapat tugas untuk mengawasi anak harus mengerti persoalan anak yang sedang tumbuh dan berkembang.
Contoh : Sikap perasaan dan emosi, minat, cita-cita dan kepribadian seseorang.
B.     Ciri - Ciri Tumbuh Kembang
1.      Perubahan dalam aspek fisik dan psikis
2.      Perubahan dalam proporsi
3.      Kontinu
4.      Ada masa percepatan dan perlambatan
ü  Masa janin
ü  0 – 1 tahun
5.      Reflek primitive hilang sebelum gerakan volunteer tercapai

C.    Prinsip - Prinsip Tumbuh Kembang
1.      Proses yang teratur, berurutan, rapi dan kontinyu dipengaruhi oleh maturasi, lingkungan dan faktor genetik
2.      Pola yang sama, konsisten dan kronologis, dapat diprediksi
3.      Variasi waktu muncul (onset), lama, dan efek dari tiap tahapan tumbuh kembang
4.      mempunyai ciri khas 
5.      Never ending process --seumur hidup dan meliputi seluruh aspek
6.      Cephalocaudal
7.      Proximodistal
8.      Differensiasi
9.      Hal yang unik, karena setiap individu cenderung mencapai potensi maksimum perkembangannya
10.  Perkembangan suatu aspek dapat dipercepat atau diperlambat
11.  Perkembangan aspek-aspek tertentu berjalan sejajar atau berkorelasi dengan aspek lainnya
12.  Perkembangan terjadi dalam tempo yang berlainan

D.    Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Secara umum factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ada dua yaitu faktor genetik dan lingkungan :
1.      Faktor genetic
Faktor genetik merupakan modal dasar mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang balita. Melalui instruksi genetik yang terkandung didalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas serta kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk genetik antara lain adalah berbagai faktor yang normal atau patologik. Gangguan pertumbuhan di negara berkembang selain diakibatkan genetik juga lingkungan yang kurang memadai.

2.      Faktor Lingkungan
Faktor Lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan balita secara garis besar ada 2 antara lain :
F Faktor Lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih dalam kandungan (pranatal)
ü  Gizi ibu waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan BBLR ( Berat Badan Lahir Rendah ) atau lahir mati dan tak jarang menyebabkan cacat bawaan , disamping itu dapat pula menyebabkan hambatan pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir.
Sebelum hamil dan selama hamil akan lebih sering menghasil bayi BBLR ( Berat Badan Lahir Rendah ) atau lahir mati dan tak jarang menyebabkan cacat bawaan. Disamping itu dapat pula menyebabkan hambatan dalam otak janin, anemia bayi baru lahir,bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus dan lain sebagainya.
ü  Mekanis
Mekanis trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada janin, demikian juga bila posisi janin di uterus tidak sesuai dapat menyebabkan tapiles, dislokasi panggul, tortikolis congenital, palpasi facialis atau cranio tabes.
ü  Toksin atau zat kimia
Toksin atau zat kimia seperti alkohol, obat kanker atau zat aditif yang lain pada bayi karena zat-zat teratogen dimana bayi sangat peka terhadap kimia tersebut.
ü  Endokrin
Hormon-hormon yang mungkin berperan dalam pertumbuhan janin adalah somatotropin, hormone plasenta, hormone tiroit, insulin. Cacat bawaan yang sering terjadi pada diabetes yang hamil dan tidak mendapatkan pengobatan pada trimester I kehamilan, kekurangan hormone tiroit dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan susunan syaraf pusat yang dapat mengakibatkan reterdasi mental.
ü  Radiasi
Radiasi pada umur kehamilan kurang 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, dan cacat bawaan lainnya.
ü  Infeksi
Infeksi intra uterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH ( Toxoplsmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex ).
ü  Stres
Stres yang dialami ibu waktu hamil dapat mempengaruhi tumbang janin antara lain cacat bawaan dan kelainan kejiwaan, dan lain-lain.
ü  Imunitas
Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidros fetails, kern ikterus, atau lahir mati.
ü  Anoksia embrio
Menurunnya oksigenisasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat menyebabkan berat badan lahir rendah.

F Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak setelah lahir ( faktor post natal ):
·         Lingkungan biologis antara lain ras / suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi ( ketahanan makanan / food secutity, keamanan pangan / food safety, perawatan sehat, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolis, hormon).
·         Faktor fisik antara lain cuaca, musim keadaan geografi suatu daerah, sanitasi yang jelek, radiasi.
·         Faktor psikososial antara lain stumulasi, motivasi belajar, pola asuh, dan kwalitas interaksi orang tua dengan abak dan lainnya.
·         Budaya lingkungan
Dalam hal ini adalah budaya dalam masyrakat yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, budaya lingkungan dapat menentukan bagaimana seseorang mempersepsikan pola hidup sehat.
·         Nutrisi
Nutrisi menjadi kebutuhan untuk tunbuh dan berkembang selama masa pertumbuhan, dalam nutrisi terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air.
·         Iklim dan cuaca
Pada saat musim tertentu kebutuhan gizi dapat dengan mudah diperoleh namun pada saat musim yang lain justru sebaliknya, sebagai contoh pada saat musim kemarau penyediaan air bersih atau sumber makanan sangatlah sulit.
·         Olahraga atau latihan fisik
Dapat memacu perkembanagn anak karena dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen ke seluruh tubu dapat tertur serta dapatmeningkatkan stimulasi perkembangan tulang, otot, dan pertumbuhan sel lainnya.
·         Posisi anak dalam keluarga
Secara umum anak pertama memiliki kemampuan intelektual lebih menonjol dan cepat berkembang karena sering berinteraksi dengan orang dewasa namun dalam perkembangan motoriknya kadang-kadang terlambat karena tidak ada stimulasi yang biasanya dilakukan saudara kandungnya, sedangkan pada anak kedua atau tengah kecenderungan orang tua yang sudah biasa dalam merawat anak lebih percaya diri sehingga kemamapuan anak untuk berdaptasi lebih cepat dan mudah meski dalm perkembangan intelektual biasanya kurang dibandingkan dengan ank pertamanya.
·         Status kesehatan
Apabila anak berada dalam kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan untuk tumbuh kembang menjadi sangat mudah dan sebaliknya.contoh apabila anak mempunyai penyakit kronis yang ada pada diri anak maka pencapaian kemampuan untuk maksimal dalam tumbuh kembang akan terhambat karena anak memiliki masa kritis.
·         Faktor keluarga dan adat istiadat antara lain :
o   Pekerjaan / pendapatan keluarga
Pekerjaan / pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang pertumbuhan anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder.
o   Pendidikan ayah / ibu
Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam pertumbuhan anak. Karena dengan pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikannya dan sebagainya.
o   Sosial ekonomi
Sosial ekonomi yang cukup dalam satu keluarga kebutuhan primer tercukupi seperti sandang pangan dan papan juga kebutuhan lainnya. Menyebabkan kebutuhan anak akan kebutuhan dasar akan berkurang juga. Sedangkan pada keluarga dengan sosial ekonominya kurang akan dan akan menghambat pertumbuhan yang optimal.
o   Adat-istiadat, norma-norma, tabu
Adat-istiadat yang berlaku di tiap daerah akan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak, seperti adat di jawa wetonan, selapanan.


3.      Factor hormonal
Factor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anakantara lain hormone somatotropin, tiroid dan glukokortikoid. Hormone somatotropin (growth hormone) berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilgo dan system skeletal, hormone tiroid berperan menstimulasi metabolism tubuh. Hormone glukokortiroid mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel intertisial dari testis (untuk memproduksi testosteron) dan ovarium (untuk memproduksi estrogen), selnjutnya hormone tesebut menstimulasi perkembangan seks, baik pada anak laki-laki maupun perempua yang sesuai dengan peran hormonnya.

Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum dibagi menjadi 3 kebutuhan dasar yaitu:

  1. Kebutuhan fisik-biomedis (”ASUH”)
Meliputi:
·         Pangan / gizi
·         Perawatan kesehatan dasar: imunisasi, pemberian ASI, penimbangan yang teratur, pengobatan
·         Pemukiman yang layak
·         Kebersihan perseorangan, sanitasi lingkungan
·         Pakaian
·         Rekreasi, kesegaran jasmani
·         Dll



  1. Kebutuhan emosi / kasih sayang (”ASIH”)
Kasih sayang dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental, atau psikososial.

  1. Kebutuhan akan stimulasi mental (”ASAH”)
Stimulasi mental mengembangkan perkembangan kecerdasan, kemandirian, kreativitas, agama, kepribadian, moral-etika, produktivitas dan sebagainya.
Anak yang mendapat ASUH, ASIH, dan ASAH yang memadai akan mengalami tumbuh kembang yang optimal sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya.

E.     Tahap - Tahap Tumbuh Kembang
Proses tumbuh kembang dimulai sejak sel telur dibuahi dan akan berlangsung sampai dewasa.
1.      Tahap prenatal
·         Masa embrio : mulai konsepsi – 8 minggu
·         Masa tengah fetus : 9 minggu – 24 minggu
·         Masa fetus lanjut : 24 minggu – lahir
2.      Tahap postnatal
·         Masa neonatal : lahir – 1 bulan
·         Masa bayi awal : 1 bulan – 1 tahun
·         Masa bayi lanjut : 1 tahun – 2 tahun
3.      Masa anak (wanita : 2-10 tahun, laki-laki : 2-12 tahun)
F Masa prasekolah : 2 – 6 tahun
F Masa sekolah : wanita 6 – 10 tahun,laki-laki 6 – 12 tahun
4.      Masa remaja (adolesen) : wanita 10-18 tahun, laki-laki 12-20 tahun
F Pra pubertas : wanita 10-12 tahun,laki-laki 10-14 tahun
F Pubertas : wanita 12-14 tahun,laki-laki 14-15 tahun
F Post pubertas :wanita 14-18 tahun,laki-laki 16-20 tahun



F.     PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Menurut Erik Erikson (1963) perkembangan psikososial terbagi menjadi beberapa tahap. Masing-masing tahap psikososial memiliki dua komponen, yaitu komponen yang baik (yang diharapkan) dan yang tidak baik (yang tidak diharapkan). Perkembangan pada fase selanjutnya tergantung pada pemecahan masalah pada tahap masa sebelumnya.
Adapun tahap-tahap perkembangan psikososial anak adalah sebagai berikut:
1.      Percaya Vs Tidak percaya ( 0-1 tahun )
Komponen awal yang sangat penting untuk berkembang adalah rasa percaya. Membangun rasa percaya ini mendasari tahun pertama kehidupan. Begitu bayi lahir dan kontakl dengnan dunia luar maka ia mutlak terganting dengan orang lain. Rasa aman dan rasa percaya pada lingkungan merupakan kebutuhan. Alat yang digunakan bayi untuk berhubungan dengan dunia luar adalah mulut dan panca indera, sedangkan perantara yang tepat antara bayi dengan lingkungan dalah ibu. Hubungan ibu dan anak yang harmonis yaitu melalui pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis dan sosial, merupakan pengalaman dasar rasa percaya bagi anak. Apabila pada umur ini tidak tercapai rasa percaya dengan lingkungan maka dapat timbul berbagai masalah. Rasa tidak percaya ini timbul bila pengalaman untukmeningkatkan rasa percaya kurang atau kebutuhan dasar tidak terpenuhi secara adekwat, yaitu kurangnya pemenuhan kebutuhan fisik., psikologis dan sosial yang kurang misalnya: anak tidak mendapat minuman atau air susu yang edukat ketika ia lapar, tidak mendapat respon ketika ia menggigit dot botol dan sebagainya.
2.      Otonomi Vs Rasa Malu dan Ragu ( 1-3 tahun )
Pada masa ini alat gerak dan rasa telah matang dan ada rasa percaya terhadap ibu dan lingkungan. Perkembangan Otonomi selama periode balita berfokus pada peningkatan kemampuan anak untuk mengontrol tubuhnya, dirinya dan lingkungannya. Anak menyadari ia dapat menggunakan kekuatannya untuk bergerak dan berbuat sesuai dengan kemauannya misalnya: kepuasan untuk berjalan atau memanjat. Selain itu anak menggunakan kemampuan mentalnya untuk menolak dan mengambil keputusan. Rasa Otonomi diri ini perku dikembangkan karena penting untik terbentuknya rasa percaya diri dan harga diri di kemudian hari. Hubungan dengan orang lain bersifat egosentris atau mementingkan diri sendiri.
Peran lingkungan pada usia ini adalah memberikan support dan memberi keyakinan yang jelas. Perasaan negatif yaitu rasa malu dan ragu timbul apabila anak merasa tidak mampu mengatasi tindakan yang di pilihnya serta kurangnya support dari orangtua dan lingkungannya, misalnya orangtua terlalu mengontrol anak.
3.      Inisiatif Vs Rasa Bersalah ( 3-6 tahun )
Pada tahap ini anak belajar mengendalikan diri dan memanipulasi lingkungan. Rasa inisiatif mulai menguasai anak. Anak mulai menuntut untuk melakukan tugas tertentu. Anak mulai diikut sertakan sebagai individu misalnya turut serta merapihkan tempat tidur atau membantu orangtua di dapur. Anak mulai memperluas ruang lingkup pergaulannya misalnya menjadi aktif diluar rumah, kemampuan berbahasa semakin meningkat. Hubungan dengan teman sebaya dan saudara sekandung untuk menang sendiri.
Peran ayah sudah mulai berjalan pada fase ini dan hubungan segitiga antara Ayah-Ibu-Anak sangat penting untuk membina kemantapan idantitas diri. Orangtua dapat melatih anak untuk menguntegrasikan peran-peran sosial dan tanggungjawab sosial. Pada tahap ini kadang-kadang anak tidak dapat mencapai tujuannya atau kegiatannya karena keterbatasannya, tetapi bila tuntutan lingkungan misalnya dari orangtua atau orang lain terlalu tinggi atau berlebihan maka dapat mengakibatkan anak merasa aktifitasnya atau imajinasinya buruk, akhirnya timbul rasa kecewa dan rasa bersalah.
4.      Industri Vs Inferioritas ( 6-12 tahun )
Pada tahap ini anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan yang akhirnya dan dapat menghasilkan sesuatu. Anak siap untuk meninggalkan rumah atau orangtua dalam waktu terbatas yaitu untuk sekolah. Melalui proses pendidikan ini anak belajar untuk bersaing (sifat kompetetif), juga sifat kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan-peraturan yang berlaku. Kunci proses sosialisasi pada tahap ini adalah guru dan teman sebaya. Dalam hal ini peranan guru sangat sentral. Identifikasi bukan terjadi pada orangtua atau pada orang lain, misalnya sangat menyukai gurunya dan patuh sekali pada gurunya dibandingkan pada orangtuanya. Apabila anak tidak dapat memenuhi keinginan sesuai standart dan terlalu banyak yang diharapkan dari mereka maka dapat timbul masalah atau gangguan.
5.      Identitas Vs Difusi Peran ( 12-18 tahun )
Pada tahap ini terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis seperti orang dewasa. sehingga nampak adanya kontradiksi bahwa dilain pihak ia dianggap dewasa tetapi disisi lain ia dianggap belum dewasa.
Tahap ini merupakan masa standarisasi diri yaitu anak mencari identitas dalam bidang seksual, umur dan kegiatan, Peran orangtua sebagai sumber perlindungan dan sumber nilai utama mulai menurun. Sedangkan peran kelompok atau teman sebaya tinggi. Teman sebaya di pandang sebagai teman senasib, patner dan saingan. Melalui kehidupan berkelompok ini remaja bereksperimen dengan peranan dan dapat menyalurkan diri. Remaja memilih orang-orang dewasa yang penting baginya yang dapat mereka percayai dan tempat mereka berpaling saat kritis.
6.      Keintiman vs Isolasi (20-30 tahun)
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
7.      Generativitas vs Stagnasi
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.
8.      Integritas vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.




G.    PERKEMBANGAN PSIKOMORAL
Perkembangan psikomoral ini dikemukakan oleh Kohlberg (dalam Wong, 1999) yang menyatakan bahwa tumbuh kembang anak dapat ditinjau dari segi moralitas yang terdiri atas tiga tingkat utama, dan masing-masing dengan dua tahap.
Teori Kohlberg mungkin dapat memprediksi perilaku, namun tidak terlalu memperhatikan perbedaan individual. Pertanyaan muncul seputar perbedaan jenis kelamin yang diamati dalam upaya pencapaian tahapan perkembangan moral.
1.      Tingkat prakonvensional. Pada tingkat ini moralitas berasa dari luar karena anak mematuhi aturan-aturan yang dibuat oleh orang yang berwenang. Tingkat ini dibagi ke dalam dua tahap:
F Orientasi hukuman dan kepatuhan (punishment-andobedience orientation). Pada tahap ini anak menentukan baik buruknya tindakan dari sisi akibat yang ditimbulkannya. Anak menghindari hukuman dan mematuhi orang yang dianggapnya mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan hukuman tersebut. Anak belum mengenal konsep moral yang mendasari konsekuensi tersebut.
F Tahap orientasi relativitas instrumental (instrumental-relativist orientation). Perilaku yang benar adalah yang memuaskan kebutuhan anak itu sendiri (kadang-kadang juga kebutuhan orang lain). Anak sudah mulai menyadari aspek timbal balik dan berbagi dengan orang lain, namun hal tersebut belum disertai elemen kesetiaan, penghargaan, atau keadilan.
2.      Tingkat konvensional. Pada tingkat ini anak mulai peduli dengan nilai kepatuhan dan kesetiaan, serta berusaha memenuhi aturan sosial maupun harapan orang-orang yang penting bagi dirinya. Tingkat ini dibagi ke dalam dua tahap:
F Orientasi keselarasan dengan orang lain (interpersonal concordance) atau menjadi ‘anak yang baik.’ Pada tahap ini anak berupaya menyelaraskan diri dengan lingkungan serta membantu dan menyenangkan orang lain. Mematuhi norma-norma yang berlaku adalah perilaku yang dianggap ‘alami’ dan anak merasa dinilai dari seberapa baik hubungannya dengan orang lain.
F Orientasi hukum dan ketertiban (law and order). Perilaku yang dianggap benar adalah mematuhi aturan, menghormati orang lain, dan menjaga ketertiban sosial. Aturan dan wewenang dapat bersifat sosial atau keagamaan, tergantung pada hal yang dianggap lebih penting.
3.      Tingkat pascakonvensional, otonom, atau prinsipil. Anak mulai ingin tahu tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang mendasari aturan. Tingkat ini dibagi ke dalam dua tahap:
F Orientasi kontrak sosial. Pada tahap ini anak sudah mulai menggunakan prinsip moral untuk mematuhi atau melanggar aturan, adanya kesadaran yang jelas bahwa nilai dan pandangan pribadi merupakan sesuatu yang relatif.
F Orientasi asa etika universal. Pada tahap ini keputusan yang diambil didasarkan pada suasana hati, prinsip, dan etika yang dipilih sendiri serta berpedoman kepada aturan-aturan yang umum di masyarakat.

H.    PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUSAL
Perkembangan psikoseksual anak pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud (dalam Wong, 1999), psikoseksual merupakan proses perkembangan anak dengan petambahan kematangan fungsi struktur dan kejiwaan yang dapat menimbulkan dorongan untuk mencari rangsangan dan kesenangan untuk menjadi dewasa. Perkembangan psikoseksual melalui tahapan berikut :
  1. Tahap oral (0-1 tahun).
Kenikmatan didapat dengan cara menghisap, menggigit, mengunyah, atau bersuara. Ketergantungan sangat tinggi dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang terjadi pada tahap ini adalah masalah menyapih dan makan.
  1. Tahap anal (1-3 tahun).
Kepuasan pada tahap ini didapat melalui pengeluaran feses, anak menunjukkan keakuannya, bersikap narsistik (cinta terhadap dirinya sendiri), dan sangat egoistik. Anak juga mulai mempelajari struktur tubuhnya. Pada fase ini tugas yang dapat dilaksanakan anak adalah latihan kebersihan. Masalah yang dapat muncul pada tahap ini adalah obsesif atau gangguan pikiran, pandangan sempit, sifat introvert (tertutup), dan ekstrovert impulsif (terbuka tetapi kurang mampu mengendalikan diri).
  1. Tahap oedipal/ phalik (3-6 tahun).
Kepuasan pada tahap ini terletak pada rangsangan otoerotik, yaitu meraba-raba, merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya, dan timbul rasa ingin tahu mengenai perbedaan yang terdapat pada lawan jenisnya. Selain itu, anak laki-laki cenderung menyukai ibu daripada ayahnya, demikian juga sebaliknya anak perempuan, cenderung menyukai ayahnya.
  1. Tahap laten (6-12 tahun).
Pada tahap ini anak mengembangkan ketrampilan dan sifat yang dimilikinya. Energi disalurkan untuk mencari pengetahuan dan berinterkasi dengan kelompok atau kawan sebanya dorongan libido mulai mereda.
  1. Tahap genital (12 tahun ke atas).
Tahap ini diawali dengan pubertas, kematangan sistem reproduksi, dan produksi hormon seks. Sumber kepuasan utama adalah daerah genitalia, namun energi juga digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mempersiapkan pernikahan.



0 komentar:

Poskan Komentar

Tolong komentarnya teman - teman, untuk menjadikan blog ini semakin berkualitas dan bermanfaat. Terima Kasih :)

Bagikan

Daftar Isi Blog