Selamat Datang!

Terima kasih atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan komentar, OK!

Tab

Tampilkan postingan dengan label IDK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IDK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2011

Penilaian Status Gizi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       LATAR BELAKANG
 Sebelum membahas status gizi, pertama sekali kita perlu mengetahui pengertian dari gizi itu sendiri. Gizi adalah suatu proses menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Keadaan gizi adalah keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan gizi dan penggunaan zat gizi tersebut atau keadaan fisiologi akibat dari tersedianya zat gizi dalam sel tubuh.
Jadi, status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi. Dibedakan atas status gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih.
Status gizi merupakan faktor yang terdapat dalam level individu (level yang paling mikro). Faktor yang mempengaruhi secara langsung adalah asupan makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi ada tiga faktor yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, dan lingkungan kesehatan yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan.
1.2       RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas akan ada permasalahan yang akan kita bahas dalam makalah ini tentang penilaian status gizi yang mencakup Indeks Massa Tubuh (IMT), berat badan (BB), lingkar lengan atas (LLA) dan head to toe.
1.3       TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas individu yang di berikan oleh dosen mata kuliah IDK II dan untuk menambah wawasan skita tentang apa yang akan di bahas dalam makalah ini.
1.4       METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan. Sumber data yang digunakan bersumber dari buku dan media kepustakaan lainnya.

Enzim dan Protein

BAB I
PENDAHULUAN

1.1           Latar Belakang
            Metabolisme merupakan sekumpulan reaksi kimia yang terjadi pada makhluk hidup untuk menjaga kelangsungan hidup. Reaksi-reaksi ini meliputi sintesis molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil (anabolisme) dan penyusunan molekul besar dari molekul yang lebih kecil (katabolisme). Beberapa reaksi kimia tersebut antara lain respirasi, glikolisis, fotosintesis pada tumbuhan, dan protein sintesis. Dengan mengikuti ketentuan bahwa suatu reaksi kimia akan berjalan lebih cepat dengan adanya asupan energi dari luar (umumnya pemanasan), maka reaksi kimia yang terjadi pada di dalam tubuh manusia harus diikuti dengan pemberian panas dari luar. Sebagai contoh adalah pembentukan urea yang semestinya membutuhkan suhu ratusan derajat Celcius dengan katalisator logam, hal tersebut tidak mungkin terjadi di dalam suhu tubuh fisiologis manusia, sekitar 37° C. Adanya enzim yang merupakan katalisator biologis menyebabkan reaksi-reaksi tersebut berjalan dalam suhu fisiologis tubuh manusia, sebab enzim berperan dalam menurunkan energi aktivasi menjadi lebih rendah dari yang semestinya dicapai dengan pemberian panas dari luar. Kerja enzim dengan cara menurunkan energi aktivasi sama sekali tidak mengubah ΔG reaksi (selisih antara energi bebas produk dan reaktan), sehingga dengan demikian kerja enzim tidak berlawanan dengan Hukum Hess 1 mengenai kekekalan energi. Selain itu, enzim menimbulkan pengaruh yang besar pada kecepatan reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Reaksi-reaksi yang berlangsung selama beberapa minggu atau bulan di bawah kondisi laboratorium normal dapat terjadi hanya dalam beberapa detik di bawah pengaruh enzim di dalam tubuh.
Salah satu metabolisme dalam tubuh adalah metabolisme protein. Protein sangat berbeda dari karbohidarat dan lemak. Protein adalah sumber utama dari nitrogen yang merupakan elemen yang sangat penting dari setiap mahluk hidup. Fungsi utamanya membentuk jaringan tubuh dengan kandungan asam aminonya. Protein membentuk kehidupan manusia, protein selalu dihubungkan dengan mahluk hidup dan upaya untuk mengetahui bagaimana kehidupan bermula dipusatkan pada bagimana protein mulanya terbentuk. Protein berperan sebagai struktural yang membangun tubuh kita. Enzim protein memecah makanan menjadi zat gizi yang dapat digunakan sel. Sebagai antibodi, mereka melindugi kita dari penyakit. Hormon peptida membawa pesan-pesan yang mengkoordinasi pelangsungan aktivitas tubuh dan protein melakukan lebih banyak lagi, mereka memandu perkembangn kita dimasa kanak-kanak dan memperhatikan tubuh kita selama masa dewasa. Mereka telah membuat kita menjadi individu unik sebagaimana kita sekarang. Seperti makromolekul biologi yang lain seperti polisakarida-polisakarida dan asam nukleat, protein-protein adalah bagian penting dari organisma-organisma dan mengambil bagian di dalam setiap proses di dalam sel-sel. Banyak protein adalah enzim-enzim bahwa mengkatalisasi reaksi-reaksi biokimia dan bersifat hal penting kepada metabolisme. Protein-protein juga mempunyai fungsi-fungsi mekanis atau struktural, seperti aktin dan miosin di dalam otot dan protein-protein di dalam cytoskeleton, wujud suatu sistim yang dari perancah bahwa memelihara bentuk sel. Protein-protein lain bersifat penting di dalam pemberian isyarat sel, tanggapan imun, sel, dan biakan sel. Protein-protein adalah juga perlu di dalam diet-diet binatang, karena binatang-binatang tidak bisa manyatukan semua asam amino yang mereka memerlukan dan harus memperoleh asam amino esensial dari makanan. Melalui proses pencernaan, binatang-binatang pecah;rinci protein yang dicernakan ke dalam asam amino yang cuma-cuma yang kemudian adalah yang digunakan di dalam metabolisme.


1.2           Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1)      Pengertian enzim
2)      Sifat dan fungsi enzim
3)      Mekanisme kerja enzim
4)      Metabolisme protein dan asam amino





1.3           Tujuan dan Manfaat
Pembuatan makalah ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui, mampu menguraikan dan menjelaskan tentang enzim dan metabolisme protein serta pembentukan urea.

1.4           Metode
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan. Sumber data yang digunakan bersumber dari buku dan media kepustakaan lainnya.

Metabolisme Lemak

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Lipid adalah sekelompok senyawa heterogen , meliputi lemak,minyak, steroid , malam (wax), dan senyawa terkait , yang berkaitan lebih karena karena sifat fisiknya daripada sifat kimianya.lipid memiliki sifat umum berupa 1) relatiftidak larut dalam air dan 2) larut dalam pelarut nonpolar misalnya eter dan kloroform. Senyawa ini merupakan konsituten makanan yang penting tidak saja karena nilai energinya yang tinggi , tetapi juga karena vitamin larut-lemak dan asam lemak esensial yang terkandung didalam lemak alammi. Lemak disimpan di dalam jaringan adipose , tempat senyawa ini berfungsi sebagai insulator panas di jaringan subkutan dan di sekitar organ tertentu.lipid non polar berfungsi sebagai insulator listrik, dan memungkinkan penjalaran gelombang depolarisasi di sepanjang saraf bermielin . kombinasi lipid dan protein (lipoprotein ) adalah konsituen sel yang penting, yang terdapat baik di membran sel maupun di mitokondria .dan juga berfungsi sebagai sebagai alat pengangkut lipid dalam darah.pengetahuan tentang metabolisme lipid sangat di butuhkan untuk memahami banyak bidang biomedis penting, misalnya obesitas , aterosklerosis dan peran berbagai asam lemak tak-jenuh ganda dalam gizi dan kesehatan.
Pencernaan lemak terutama terjadi dalam usus, karena dalam mulut dan lambung tidak terdapat enzim lipase yang tidak dapat menghidrolisis lemak. Dalam usus lemak diubah dalam bentuk emulsi, sehingga dengan mudah berhubungan denganenzim steapsin dalam cairan pankreas. Hasil akhir proses pencernaan lemak ialah asam lemak, gliserol, monogliserol, digliserida serta sisa trigliserida.
Lipid merupakan salah satu komponen penting dalam penyusunan sel-sel dalam tubuh serta berperan penting dalam metabolisme kehidupan sehari-hari manusia. Maka kita harus bisa mengetahuiapa saja fungsi lipid , kemudian metabolisme nya sampai pada penyakit atau gangguan yang di timbulkannya. Dengan mengetahu itu semua kita bisa lebih memperdalam pengetahuan kita tentang lipid.


1.2  RUMUSAN MASALAH
a)    Apa fungsi dari lipid?
b)    Apa saja jenis – jenis lipid dan asam lemak?
c)    Bagaimana metabolisme lipid tersebut?

1.3  TUJUAN DAN MANFAAT
Pembuaatan paper ini brtujuan agar mahasiswa memahami tentang metabolisme lemak. Sehingga nantinya dapat memberikan penjelasan kepada yang belum mengetahuinya dan bisa mengatasi bila terjadi gangguan tersebut.

1.4  METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan. Sumber data yang digunakan bersumber dari buku dan media kepustakaan lainnya.

Metabolisme Karbohidrat

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       LATAR BELAKANG
Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen. Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasil energi di dalam tubuh. Tiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal dan energi hasil proses oksidasi (pembakaran) karbohidrat ini kemudian akan digunakan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi-fungsinya sepert i bernafas, kontraksi jantung dan otot serta juga untuk menjalankan berbagai
aktivitas fisik seperti berolahraga atau bekerja.
            Secara sederhana karbohidrat dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks dan berdasarkan responnya terhadap glukosa darah di dalam tubuh, karbohidrat juga dapat dibedakan berdasarkan nilai tetapan indeks glicemik-nya (glycemic index).
Contoh dari karbohidrat sederhana adalah monosakarida seperti glukosa, fruktosa dan galaktosa atau juga disakarida seperti sukrosa dan laktosa. Jenis – jenis karbohidrat sederhana ini dapat ditemui terkandung di dalam produk pangan seperti madu, buah-buahan dan susu.Sedangkan contoh dari karbohidrat kompleks adalah pati (starch), glikogen (simpanan energi di dalam tubuh), selulosa, serat (fiber) atau dalam konsumsi sehari-hari karbohidrat kompleks dapat ditemui terkandung di dalam produk pangan seperti, nasi, kentang, jagung, singkong, ubi, pasta, roti dsb.

1.2       RUMUSAN MASALAH
1.      Jenis – jenis karbohidrat
2.      Glikolisis
3.      Glikogenesis
4.      Glikogenolisis
5.      Glukoneogenesis
6.      Metabolisme anam uronat
7.      Metabolisme galaktosa
8.      Faktor – faktor yang mempengaruhi metabolisme karbohidrat
9.      Toleransi glukosa
1.3       TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan pembuatan paper ini adalah untuk memenuhi tugas individu yang di berikan oleh dosen mata kuliah IDK II dan untuk menambah wawasan saya tentang apa yang akan di bahas dalam paper ini.

1.4       METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan. Sumber data yang digunakan bersumber dari buku dan media kepustakaan lainnya.

Metabolisme Darah

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Dalam hidupnya, organisme memerlukan makanan dan oksigen untuk melangsungkan metabolisme. Proses metabolisme, selain menghasilkan zat-zat yang berguna juga menghasilkan sampah (zat sisa) yang harus dikeluarkan dari tubuh. Bahan-bahan yang diperlukan tubuh seperti makanan, oksigen, hasil metabolisme dan sisanya diangkut dan diedarkan di dalam tubuh melalui sistem peredaran darah. Hasil pencernaan makanan dan oksigen diangkut dan diedarkan oleh darah keseluruh jaringan tubuh, sementara sisa-sisa metabolisme diangkut oleh darah dari seluruh jaringan tubuh menuju organ-organ pembuangan. Untuk lebih memahami tentang meabolisme darah maka dalam paper ini akan dijabarkan mulai dari komposisi darah itu sendiri, fungsi dari masing-masing komponen darah, antikoagulan, pemeriksaan sel darah, pemeriksaan plasma darah, dan macam-macam golongan darah.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang dapat diambil yaitu :
a.     Apa saja komposisi dari sel darah?
b.    Bagaimanakah fungsi masing-masing sel darah tersebut?
c.     Apakah yang dimaksud dengan antikoagulan?
d.    Bagaimanakah proses dan apa sajakah yang diperlukan dalam pemeriksaan sel darah dan plasma darah?
e.    Bagaimanakah golongan darah itu?

1.3  Tujuan
Tujuan yang dapat penulis ambil dari pembuatan paper ini yaitu untuk dapat mengetahui tentang komposisi dari sel darah, fungsi sel darah, antikoagulan, pemeriksaan sel darah dan plasma darah dan yang terakhir untuk dapat mengetahui tentang golongan darah.


1.4  Manfaat
Setelah pembuatan paper ini diharakan penulis maupun pembaca bisa mengerti dan lebih memahami tentang komposisi dari sel darah, fungsi sel darah, antikoagulan, pemeriksaan sel darah dan plasma darah dan yang terakhir untuk dapat mengetahui tentang golongan darah.

1.5  Metode
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan. Sumber data yang digunakan bersumber dari buku dan media kepustakaan lainnya.

Kecukupan Oksigen

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Tujuan akhir pernapasan adalah untuk mempertahankan konsentrasi oksigen, karbondioksida dan ion hidrogen dalam cairan tubuh. Kelebihan karbondioksida atau ion hidrogen mempengaruhi pernapasan terutama efek perangsangan pusat pernapasannya sendiri, yang menyebabkan peningkatan sinyal inspirasi dan ekspirasi yang kuat ke otot-otot pernapasan. Akibat peningkatan ventilasi pelepasan karbondioksida dari darah meningkat, ini juga mengeluarkan ion hidrogen dari darah karena pengurangan karbondioksida juga mengurangi asam karbonat darah.
PO2 darah yang rendah pada keadaan normal tidak akan meningkatkan ventilasi alveolus secara bermakna sampai tekanan oksigen alveolus turun hampir separuh dari normal. Sebab dari berkurangnya efek perubahan tekanan oksigen pada pengaturan pernapasan berlawanan dengan yang disebabkan oleh mekanisme yang mengatur karbondioksida dan ion hidrogen. Peningkatan ventilasi yang benar-benar terjadi bila PO2 turun mengeluarkan karbondioksida dari darah dan oleh karena itu mengurangi tekanan PCO2, pada waktu yang sama konsentrasi ion hidrogen juga menurun. Berbagai keadaan yang menurunkan transpor oksigen dari paru ke jaringan termasuk anemia, dimana jumlah total hemoglobin yang berfungsi untuk membawa oksigen berkurang, keracunan karbondioksida, sehingga sebagian besar hemoglobin menjadi tidak mampu mengangkut oksigen, dan penurunan aliran darah ke jaringan dapat di sebabkan oleh penurunan curah jantung atau iskemi lokal jaringan.
Perubahan tegangan oksigen dan karbondioksida serta perubahan konsentrasi intraeritrosit dari komponen fosfat organik, terutama asam 2,3 bifosfat (2,3-BPG) menyebabkan pergeseran kurva disosiasi oksigen. Bila hasil hipoksia sebagai akibat gagal pernapasan, PaCO2 biasanya meningakat, dan kurva disosiasi oksigen bergeser ke kanan. Dalam kondisi ini, persentase saturasi hemoglobin dalam darah arteri pada kadar penurunan tegangan okmsigen alveolar (PaO2) yang diberikan. Akibat dari hipoksia, terjadinya perubahan pada sistem syaraf pusat. Hipoksia akaut akan menyebabkan gangguan judgement, inkoordinasi motorik dan gambaran klinis yang mempunyai gambaran pada alkoholisme akut. Kalau keadaan hipoksia berlangsung lama mengakibatkan gejala keletihan, pusing, apatis, gangguan daya konsentrasi, kelambatan waktu reaksi dan penurunan kapasitas kerja. Begitu hipoksia bertambah parah pusat batang otak akan terkena, dan kematian biasanya disebabkan oleh gagal pernapasan. Bila penurunan PaO2 disertai hiperventilasi dan penurunan PaCO2, resistensi serebro-vasculer meningkat, aliran darah serebral meningkat dan hipoksia bertambah.

1.2     Rumusan Masalah
            a. Apa yang dimaksud dengan hipoksia?
            b. Apa yang dimaksud dengan hipokapnia?
            c. Apa yang dimaksud dengan hiperkapnia?
            d. Apa yang dimaksud dengan hipoventilasi?
            e. Ap yang dimaksud dengan hiperventilasi?

1.3       Manfaat dan Tujuan
            Pembuaatan paper ini brtujuan agar mahasiswa memahami tentang hipoksia, hipokapnia, hiperkapnia, hipoventilasi dan hiperventilasi. Sehingga nantinya dapat memberikan penjelasan kepada yang belum mengetahuinya dan bisa mengatasi bila terjadi gangguan tersebut.

1.4       Metode
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan. Sumber data yang digunakan bersumber dari buku dan media kepustakaan lainnya.

Selasa, 17 Mei 2011

Bunyi dan Cahaya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Blakang
Suatu perubahan mekanik terhadap zat gas, zat cair, atau padat sering menimbulkan gelombang bunyi. Gelombang bunyi ini merupakan vibrasi/getaran dari molekul – molekul zat dan saling beradu satu sana lain namun demilkkian zat tersebut terkordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energy bahkan tidak pernah terjadi pemindahan partikel. Suatu penelitian mengenai terjadinya  penjalaran bunyi, mendeteksi dan penggunaan bunyi sangat penting untuk mengetahui lebih lanjut akan pengalihan energy mekanik.
Cahaya sendiri pada hakekatnya tidk dapat dilihat, kesan adanya cahaya apabila cahaya tersebut mengenai benda. Melalui pendekatan cahaya sebagai gelombang dan partikel maka peristiwa refraksi, difraksi, disperse dan refleksi dapat dijelaskan denngan teori gelombang sedangkan peristiwa panas yang ditimbulkan oleh cahaya dapat di jelaskan melalui teori foton kwatum atau partikel.


1.2 Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah yang akan di bahas pada bab selanjutnya yaitu :
            1.2.1. Apa saja konsep dasar bunyi ?
            1.2.2. Apa yang dimaksud dengan visus , akomodasi dan refraksi ?



1.3  Tujuan penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah selain sebagai tugas perkuliahan juga untuk  menambah wawasan penulis mengenai :
            1.3.1. Untuk mengetahui dan memahami mengenai konsep dasar bunyi.
            1.3.2. Untuk mengetahui dan memahami mengenai visus, akomodasi dan  refraksi.

1.4. Metode Penulisan
      Metode penulisan yang dipergunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan mengunakan pendekatan normative yaitu metode kepustakaan dengan menggunakan teknik pencatatan dari berbagai sumber yang kemudian dirangkum dalam sebuah makalah.


Sistem Reproduksi

1 A) STRUKTUR ORGAN REPRODUKSI WANITA
Pada wanita terdapat sepasang kelenjar kelamin,yaitu ovarium yang berfungsi menghasilkan sel telur. Dalam ovarium terdapat folikel graaf yang berkembang menjadi sel telur (ovum). Ovarium dihubungkan dengan uterus (rahim) oleh suatu saluran yang disebut tuba fallopii (oviduk). Uterus merupakan saluran berongga yang lebih besar dengan bagian ujungnya bersatu membentuk saluran sempit,  yaitu vagina.
Struktur anatomi  reproduksi wanita terdiri dari ,anatomi mikro dan anatomi makro.
·         Anatomi mikro
 Anatomi mikro terdiri atas bagian bagian sebagai berikut :
1.      Labia mayora (bibir besar) bibir luar vagina yang tampak tebal berlapiskan lemak.
2.      Mons veneris, pertemuan antara kedua bibir vvagina dengan bagian atas yang tampak membukit
3.      Labia minora (bibir kecil), yaitu sepasang lipatan kulit yang halus dan tipis serta tidak dilapisi lemak.
4.      Klitoris (kelentit) tonjolan kecil yang terdapat pada labia mayora.
5.      Orificium urethrae, merupakan muaran saluran kencing yang berada tepat dibawah klitoris.
6.      Hymen (selaput dara), berlokasi dibawah saluran kencing yang mengelilingi tempat masuk ke vagina.

·         Anatomi makro
Anatomi makro terdiri atas bagian sebagai berikut :
1.      Ovarium
Ovarium merupakan dua struktur  kecil berbentuk oval, masing-masing berukuran sekitar 2x4x1,5 cm, berada jauh di dalam pelvis wanita sedikit lateral terhadap dan di belakang uterus. Kedua organ ini terikat lemah pada uterus oleh pita jaringan ikat. Pada pemeriksaan bimanual, pemeriksa akan merasakan benda yang menyerupai almond yang bergeser diantara jari-jari pemeriksa saat melakukan palpasi. Setelah menopause, ovarium tidak dapat terpalpasi sama sekali
Arteri ovarika berasal dari aorta yang berada sedikit di bawah arteri renalis dan merupakan pemasok darah ovarium yang utama. Arteri ovarika berjalan melewati rongga retroperitoneal abdomen di dekat ureter. Darah yang memasuki ovaarium keluar melalui vena ovarika.vena ovarika mengalirkan darah ke vena cava pada sisi kanan dan ke vena renalis pada sisi kiri. Perbedaan anatomis dengan aliran vena ini sangat penting. Semakin lateral posisi vena ovarika kiri membuatnya lebih rentan terhadap obstruksi dan pembekuan thrombus, terutama pada kehamilan. Aliran limfatik ovarium berjalan ke nodus lumbalis (para-aorta).
Ovarium berfungsi memproduksi telur yang matang untuk fertilisasi dan membuat hormon steroid dalam jumlah besar.
2.      Tuba fallopii
Tuba fallopii merupakan struktur saluran bilateral yang melekat ke uterus pada setiap kornu (ujung)-nya. Tuba fallopii dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan anatomi dan fungsinya, yaitu kornu, ismus, dan fimbria.  Kornu merupakan bagian dari dinding otot uterus dan menjamin hubungan yang stabil dan kuat dengan organ ini. Fertilisasi terjadi dalam bagian yang panjang, sempit dan menyerupai pensil  yang disebut ismus. Ujung tuba yang memiliki fimbria atau yang bergalur merupakan bagian yang paling distal. Fimbria merupakan bagian distal tuba fallopii yang menyerupai jari-jari. Fimbria ini berperan dalam aktivitas menyerupai gerakan menyapu secaraa terus-menerus dan telah diketahui bertujuan mencapai cul-de-sac pada pelvis wanita untuk menangkap telur matang yang jatuh di belakang uterus.
Bersamaan dengan ovarium tuba fallopii dibungkus oleh satu lapisan peritoneum parietal yang disebut  ligament latum. Keadaan ini membentuk struktur yang memiliki ketebalan ganda yang dibatasi oleh ligament rotundum uterus di bagian superior.

Fisiologi Tidur

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yangmutlak harus dipenuhi oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang cukup,tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada setiap individu. Secara umum,istirahat berartisuatu keadaan tenang,relaks,tanpa tekanan emosional,dan bebas dari perasaan gelisah. Jadi,beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Terkadang,berjalan-jalan di taman juga bisa dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat.
Sedangkan tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal,tingkat kesadaran yang bervariasi,perubahan proses fsiologis tubuh,dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal.
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak,yaitu Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region(BSR). RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran, memberi stimulus visual, pendengaran, nyeri, dan sensori raba, serta emosi dan proses berfikir.

1.2.         Rumusan Masalah
1.Apa pengertian dari tidur ?
2.Bagaimana fisiologi dari tidur ?
3.Apa yang mempengaruhi siklus tidur  ?
4.Apa yang dimaksud dengan irama sirkadian ?
5.Apa saja masalah dari tidur ?
6.Bagaimana tahap tidur REM dan NON REM ?

1.3.         Tujuan Penulisan
1.      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pengertian tidur.
2.      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami mengenai fisiologi dari tidur.
3.      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami mengenai siklus tidur.
4.      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami mengenai Irama sirkadian.
5.      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami masalah dari tidur , REM , dan NON REM.

1.4.         Manfaat Penulisan
1.      Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui mengenai pengertian dari fisiologi tidur.
2.      Dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi mahasiswa dalam mempelajari pengertian lebih jauh dari tidur dan fisiologinya.

1.5.     Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini ditempuh metode penulisan deskriftif kualitatif, yakni metode penulisan dengan cara mengumpulkan berbagai sumber – sumber yang memuat materi tentang rentang gerak, kesejajaran tubuh dan posisi tubuh yang aman saat bekerja. Sumber dapat berupa buku, internet, dll. Sumber tersebut kemudian diolah dengan cara menyusun suatu simpulan yang terdiri atas kalimat – kalimat.

  

Fisiologi Nyeri

Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan
Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual. Stimulus nyeri dapat berupa stimulus yang bersifat fisik dan atau mental, sedangkan kerusakan dapat terjadi pada jaringan aktual atau pada fungsi ego seseorang individu.(Mahon,1994).
Nyeri aedalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja seseorang mengatakan bahwa ia merasa nyeri. (McCaffery.1980)

Fisiologi nyeri
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :
a)      Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan
b)      Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi
Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.
Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.

Sistem Saraf

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Kerja sistem saraf adalah mengatur aktivitas sensorik dan motorik, perilaku instinktif dan dipelajari, organ dalam dan sistem-sistem dalam tubuh. Pentingnya fungsi ini menjadi jelas saat individu menderita misalnya kebutaan, kelumpuhan atau kesulitan lain setelah trauma spinal ataupun stroke.
Sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat (SSP) dan tepi (SST). SSP merujuk pada otak dan korda spinalis, bertugas memproses informasi sensorik, mengintegrasikannya dengan pengalaman, untuk dapat memberi komando pada motorik agar bereaksi secara tepat. SST terdiri atas reseptor sensorik dan efektor motorik. Reseptor sensorik terletak pada organ, bertugas mendeteksi perubahan lingkungan luar atau dalam tubuh, serta mengkomunikasikannya pada SSP melalui saraf sensorik aferen. Saraf sensorik terdiri atas serabut aferen. Saraf motorik terdiri atas serabut aferen, yang bersifat somatik (volunter, dikendalikan kehendak) dan otonom (involunter, tidak terpengaruh kehendak).
            Rangsang sensori akan diterima reseptor sensori di daerah perifer (tepi), letaknya pada organ. Reseptor sensori menerima rangsang, diteruskan ke sel saraf sensori. Rangsang ini dijalarkan sepanjang serabut saraf sensori aferen untuk dibawa ke SSP (otak dan korda spinalis). Di pusat bagian bawah, sinyal dianalisa dan integrasikan. Jika harus dijawab segera, maka pusat bagian bawah segera memerintahkan pusat motorik untuk menggerakkan otot (refleks). Sementara itu impuls tetap dikirim ke pusat atas, melalui jaras naik (ascending pathways). Setelah dianalisa dan diintegrasikan, serta dihubungkan dengan pusat asosiasi, maka impuls jawaban dikirm ke pusat motorik atas. Pusat motorik atas mengirim impuls jawaban nelalui jaras turun (descending pathways) ke pusat motorik bawah. Dari pusat motorik bawah, impuls diteruskan melalui neuron motorik bawah dan saraf motorik tepi (aferen), sampai efektor tepi pada sistem saraf somatik (di otot rangka). Akibatnya otot berkontraksi, terjadilah gerakan tubuh. Jika jawaban rangsang diturunkan melalui serabut motorik otonom yang menyampaikan ke efektor organ dalam (visera) maka terjadi kontraksi otot polos di visera dan kelenjar. Tergantung pada serabut saraf otonom yang dilalui impuls, apakah para simpatis atau simpatis, maka kontraksi otot polos dapat mempercepat atau memperlambat kerja organ (atau konstriksi-dilatasi). Pusat memerintahkan gerakan ke otot polos, baik kelenjar maupun organ, dipengaruhi oleh struktur khusus dalam otak (sistem limbik, hipotalamus dan medulla oblongata). Pusat bawah terletak dalam korda spinalis, pusat atas berada di otak.

1.2.         Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Anatomi Sistem Saraf ?
2. Bagaimana struktur anatomi otak baik eksternal dan internal ?
3. Bagaimana struktur anatomi saraf kranial, spinal cord, ssp, sistem saraf otonom?
4. Bagaimana struktur sensori reseptor, reseptor fisiologis ?

1.3.         Tujuan Penulisan
1.      Mampu memahami mengenai anatomi sistem saraf.
2.      Mampu mengetahui dan menjelaskan struktur anatomi otak baik eksternal dan internal.
3.      Mampu mengetahui dan menjelaskan anatomi saraf kranial, spinal cors, ssp, sistem saraf otonom.
4.      Mampu mengetahui dan menjelaskan sensori reseptor, reseptor fisiologis.

1.4.         Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan paper ini adalah :
1.      Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui mengenai pengertian dari anatomi sistem saraf .
2.      Dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi mahasiswa dalam mempelajari pengertian lebih jauh dari anatomi sistem saraf.


Daftar Isi Blog